Syiah-Sunni di Tanah Suci Berebut Islam

Submitted by Muhammad Intel on Sun, 09/18/2016 – 21:38

Iran dan Arab Saudi seakan ditakdirkan untuk menjalani hubungan yang keruh. Dua negara itu tak hanya dipisahkan oleh dua wajah Islam—Syiah dan Suni— tetapi juga dua kutub sikap politik yang berbeda. Sesekali keduanya bertemu di medan laga lewat kepanjangan tangan aliansinya masing-masing. Tahun ini, ketegangan dua kekuatan besar di Timur Tengah itu kembali menyeruak: terkait penyelenggaraan ibadah haji.

Sebab musabab perseteruan ini bisa ditelusuri di awal 2016 saat Arab Saudi mengeksekusi mati ulama Syiah, Syeh Nimr Baqr al-Nimr (56). Nirm dikenal sebagai corong kelompok minoritas Syiah di Arab Saudi. Kematiannya memicu demonstrasi besar-besaran di kedutaan besar Arab Saudi di ibukota Iran, Teheran.

Hubungan kedua negara yang sebelumnya “biasa-biasa saja” akhirnya kembali tegang. Arab Saudi tak hanya menutup kantor kedutaannya, namun juga menghentikan sementara misi diplomatiknya. Keputusan ini kemudian merembet pada susahnya pengabulan visa bagi para calon jemaah haji asal Iran yang akan berangkat ke tanah suci pada bulan September ini.

Menteri Kebudayaan dan Pedoman Islam Iran, Ali Jannati, berkata kepada The Washington Post pada pertengahan Mei lalu bahwa negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi telah gagal. Padahal ia sudah berjuang selama empat bulan agar permohonan visa dan transportasi bagi warga Iran dalam penyelenggaraan ibadah haji bisa diperoleh. Pada bulan Mei itu pula dinyatakan bahwa jemaah asal Iran tak bisa berpartisipasi dalam ibadah haji tahun ini.

“Kami telah melakukan segala upaya, namun pemerintah Arab Saudi lah yang melakukan sabotase,” kata Jannati.

Kepala Pengadilan Umum di Wilayah Madinah, Syeh Dr. Saleh bin Abdulrahman bin Sulaiman Mohaimeed, membantah tudingan ini. Ia justru melempar tuduhan balik. 

“Iran mempolitisir haji dan tak memprioritaskan warganya sendiri, ” katanya kepada Saudi Press Agency.

Tudingan untuk “Setan Kecil”

Iran bukannya asal marah-marah. Sikap tegas petinggi Negeri para Mullah justru atas dasar perhatian yang tinggi kepada para warganya. Pimpinan tertinggi Iran Ayatullah Ali Khameini pada Senin (5/9/2016) mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi adalah “pembunuh” jemaah haji. Gelar tersebut berkaitan dengan musibah kematian lebih dari 2.000 jemaah pada penyelenggaraan haji tahun 2015 lalu.

Musibah menyedihkan yang oleh media-media Indonesia dinamai dengan Tragedi Mina itu adalah yang terburuk dalam sejarah penyelenggaraan ibadah haji. Associated Press melaporkan korban meninggal sebanyak 2.411, sedangkan Agence France-Press menyebut angka 2.236 untuk korban yang meninggal. Sedangkan versi resmi dari pemerintah Arab Saudi menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal jauh lebih sedikit, yakni sebanyak 769 orang, di mana 934 lainnya luka-luka.

Tragedi yang menjadi sorotan warga dunia itu terjadi di Mina, lebih tepatnya di persimpangan jalan nomor 204 dan 233 yang mengarah ke Jembatan Jamarat. Penyebabnya simpang siur, tetapi para pengamat menyebutkan jika tragedi itu karena terlalu banyak orang yang ingin melaksanakan ritual lempar jumrah, tingginya tingkat kelelahan dan panas cuaca, serta kepanikan yang melanda akibat banyak jemaah yang baru pertama kali mengikuti ibadah haji.

Kabut duka pun perlahan menyelimuti negara-negara yang warganya menjadi korban. Kebetulan, negara dengan korban paling banyak adalah Iran. Jemaah haji asal Iran yang meninggal berjumlah 464 orang. Tak pelak, kondisi ini meningkatkan tensi politik antara Iran dan Arab Saudi, yang sebetulnya kala itu sudah terpercik atas munculnya perang sipil di Suriah dan Yaman.

Berangkat dari tragedi kelam itu, Ali Khameini tak ragu untuk melempar kesalahan terbesar ada di tangan pemerintah Arab Saudi yang tak dinilai tak becus dalam menyelenggarakan haji. Apalagi Tragedi Mina terjadi selang beberapa minggu saja usai jatuhnya crane yang menewaskan lebih dari 100 jemaah haji. Ali Khameini yang marah atas tuduhan politisasi haji kemudian melabeli Arab Saudi sebagai “setan kecil”.

“Mereka [Arab Saudi] telah menyempitkan haji sebagai ritual wisata-religi, sedang menyembunyikan permusuhan dan kedengkian terhadap orang-orang Iran yang setia dan revolusioner dengan dalih ‘mempolitisasi haji. Mereka sebenarnya setan kecil dan lemah yang gemetar karena takut membahayakan kepentingan dari setan besar yakni Amerika Serikat,” kata Khaemeni sebagaimana dikutip BBC, Senin awal September 2016.

Tak terima dengan julukan itu, Arab Saudi lewat mufti besarnya Abdul Aziz Al Syeikh membalasnya lewat pernyataan yang dimuat di sebuah koran harian di Mekkah. Ia menganggap reaksi lempar kesalahan Khameini bukanlah sesuatu yang mengejutkan sebab orang-orang Iran adalah keturunan Majusi, orang-orang era Zoroaster di Persia (sekarang Iran) yang menyembah api.

“Kami paham jika mereka bukanlah muslim. Mereka adalah keturunan kaum Majusi. Permusuhan mereka terhadap kaum muslim, terutama golongan Sunni, sudah berlangsung sejak lama,” kata Abdul Aziz sebagaimana dikutip Associated Press.

Tak perlu waktu lama bagi Iran untuk membalas kembali pernyataan kontroversial itu. Sehari setelahnya, Javad Zarif Menteri Luar Negeri Iran berkata di akun Twitternya dengan nada satire:

“Memang, tak ada kemiripan antara Islam ala Iran dan mayoritas muslim dengan ulama ekstremis-fanatik Wahabi sekaligus ahli propaganda teror ala Arab Saudi.”

Reporter: Akhmad Muawal Hasan