Dengan Meminta Maaf Ahok Sudah Menunjukkan Sikap Berbudaya Nusantara

Submitted by Muhammad Intel on Mon, 10/10/2016 – 22:43

Akhirnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengucapkan permintaan maaf kepada umat Islam terkait ucapannya yang dinilai sejumlah pihak melecehkan kitab suci.

“Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau apa,” kata Basuki di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (10/10/2016).

Kawan saya pernah diskusi dengan seorang dosen antropologi dari Jerman. Beliau menyoroti perbedaan kultur Barat dan Nusantara, salah satunya adalah permintaan maaf.

Di Barat, dimana orang punya ego sangat tinggi, mereka sangat susah minta maaf, kecuali kalau mereka betul-betul merasa bersalah, atau terbukti bersalah. Selain itu mereka sangat anti untuk minta maaf.

Dia menyoroti budaya Nusantara dimana orang gampang sekali meminta maaf, padahal untuk perkara yang belum tentu ia salah, bahkan permintaan maaf untuk mencairkan suasana ataupun basa-basi.

Sebagai contoh, sering kali dalam acara atau rembug rasa, kita mendengar, “Mohon maaf sebelumnya.” atau “Ngapunten saderengipun”.

Saya menilai budaya ini memang endemik di Nusantara, dan turut berperan dalam menjaga kesatuan dari sekian ratus suku, budaya, adat, bahasa yang ada.

Dalam kasus video Ahok kemarin, seperti sudah saya tulis dalam status sebelumnya, saya pun menilai beliau tidak bermaksud menghina Quran dan Islam. Tapi pernyataan beliau saya nilai tidak pada tempatnya, tidak sensitif. Sehingga sangat tepat kalau beliau meminta maaf. Ini pelajaran buat beliau, dan bagi kita semua, untuk berhati-hati sebelum bicara.

Buat kami yang di daerah lain, pertarungan di DKI akan lebih menarik kalau semakin banyak adu gagasan, adu program yang dipertandingkan, yang bisa menjadi bahan pembelajaran, ketimbang perkara seperti ini.

(Muhammad Jawy)