Bagaimana Jubah Yang Sesuai Sunah Nabi?

Submitted by Fajar Arifin Ahmad on Sat, 01/23/2016 – 16:11

Mengikuti “Sunah Nabi”? Alasan yang sering saya dengar & baca dari sejumlah kelompok Islam yang hobi memakai jubah adal dalam rangka untuk mengikuti “Sunah Nabi”. Emang sih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dulu memakai jubah karena memang itu pakaian beliau & orang-orang Arab lain, termasuk preman Abu Jahal & Abu Lahab.

Kalau beliau orang Jawa ya lain lagi pakaiannya. Pakai blankon kali beliau. Tetapi seperti apakah sebetulnya jubah yang dipakai Kanjeng Nabi itu? Desainnya, coraknya, ukurannya, bahannya…

Jubah itu “sama tapi tak serupa”: ada jubah Saudi, jubah Qatari, jubah Emirati, jubah Omani, dan lain sebagainya yang masing-masing berbeda desainnya. Itu belum termasuk ukuran panjang-pendek jubah yang juga berlainan, sesuai dengan keyakinan masing-masing kelompok Islam. Ada yang panjang menjuntai, ada pula yang di atas mata kaki.

Ada juga lo yang ukuran jubahnya di atas mata kaki tapi atas banget sampai mau ke lutut he he. Dari ukuran panjang-pendeknya jubah kita bisa tahu dari “mazhab” & kelompok Islam mana mrk ini. Tidak hanya itu, masing-masing suku besar Arab juga mengembangkan model & desain jubah sendiri-sendiri sebagai “penanda identitas” kesukuan mereka.

Saya tidak tahu persis jubah “model” apa & seperti apa ukurannya yang dipakai Kanjeng Nabi. Jika ada informasi tunggal & akurat tentang “jubah Nabi” tentu kaum Muslim Arab masa kini akan menggunakan bentuk & ukuran jubah yang sama.Tetapi kenyataanya tidak. Jadi pada akhirnya apa yang sebagian umat Islam “idealkan” & “yakini” sebagai “pakaian Nabi” itu sejatinya hanyalah sebatas “tafsir” & “imajinasi” belaka. Lagi pula bukankah “jubah ala Nabi” itu sudah tidak diproduksi lagi kan wong sudah berabad-abad yang lalu?

Jubah-jubah sekarang kan produksi China, India, atau mungkin Tanah Abang he he. Jubah-jubah di kawasan Arab juga kebanyakan made in China, India, Bangladesh dan seterusnya.

Jadi tidak usah saling mengklaim tentang “jubah islami” atau “pakaian relijius” karena sesungguhnya semua pakaian itu “sekuler”, tidak ada yang agamis, karena pakaian adalah produk kebudayaan manusia. Oh iya lupa, jubah bukan hanya dipakai oleh orang-orang “Arab Muslim” saja lo. Warga Arab Kristen dan non-Muslim lain juga memakai jubah kok wong itu “pakaian tradisional” mereka. Jadi teman-teman Muslim di Indonesia tidak usah ribut soal pakaian ya apalagi menganggap jubah itu “pakaian Islami” nanti diketawain sama orang2 Arab lo…

Prof Sumanto Al Qurtubi (Dosen King Fahd University)