Aksi Bom Bunuh Diri dan Hadiah 72 Bidadari

PIYUNGANONLINE – Aksi pelaku bom bunuh diri seperti yang terjadi di di kawasan Sarinah, Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis (14/1), menyisakan sebuah pertanyaan, “Mengapa mereka mau melakukannya?”

Ternyata, orang-orang yang berniat melakukan aksi bom bunuh diri, memiliki cara pandang khas: mereka sangat yakin aksinya itu merupakan tiket menuju surga dengan 72 bidadari yang siap melayani.

Pada bulan Oktober 2015 silam, seorang pria yang tak diketahui identitasnya ditangkap oleh polisi Kota Palestina.  Ia dilaporkan akan melakukan serangan bom bunuh diri, meskipun ada anggota keluarganya di tempat ia beraksi.

Dikutip dari Daily Star (24/10/2015), pria ini mengatakan kalau 72 bidadari sedang menunggunya di surga dan tak ada alasan logis untuk menikahi satu orang wanita di bumi.

Saat menjalani pemeriksaan di kantor polisi, pria ini mengatakan:

”Jika aku pergi meledakkan diri dan aku lihat keluargaku ada di sana, aku akan tetap meledakkan diriku.”

Siapapun yang tak mau ikut berjihad adalah bukan orang yang tak bersalah. Hanya yang tak bersalah yang bisa berjihad di Miranshah.”

Jika ditanya apakah dia ingin menikah, ia menjawab : ”Tidak, 72 bidadari sedang menungguku di surga, jadi kenapa aku harus punya satu di dunia?”

”Mereka akan diperlakukan di sana (surga) sesuai dengan keinginan mereka. Jika mereka mendukung pemerintah, maka mereka akan diberi jawaban yang sesuai.” lanjut si pemuda.

Cara pandang demikian juga diungkapkan Anif Solchanudin, pelaku bom Bali II. Dia berkata, “Saya sempat menawarkan diri menjadi pelaku bom bunuh diri. Waktu itu, ustad saya (maksudnya Subur, tahanan Polda Metro Jaya) mengatakan, dengan menjadi pelaku bom bunuh diri, saya akan masuk surga. Saat meledak dan darah saya mengalir, saat itu dosa saya akan dihapuskan. Kemudian saya akan dijemput 72 bidadari yang akan mengantar saya ke surga”.

Apakah keyakinan demikian bisa dibenarkan?

Gubernur DKI Basuki Tjahya Purnama atau Ahok menolak mentah-mentah keyakinan itu.  Menurutnya, di manapun di dunia, tidak ada agama yang mengajarkan bom bunuh diri.

“Karena nggak ada ajaran yang ngajarin kamu masuk ke surga (kalau pasang bom bunuh diri-red).  Pasti masuk neraka yang mati seperti itu. Aku yang ngomong! . Karena nggak ada ajaran ngomong seperti itu,” jelas Ahok di balai kota DKI, Jakarta, Jumat (15/1/2016).

“Masuk neraka lu semua! Gue bilangn lu, gue jamin lu pasti masuk neraka kalau seperti itu,” urai dia lagi.

Ahok juga mengungkapkan, orang-orang yang melakukan bom bunuh diri itu dibohongi oleh mereka yang menyuruh.

“Kalau lu bisa masuk surga lu mati dulu dong. Pernah nggak orang gitu nyuruh anaknya keluarganya mati?” ungkap dia.

Ketika Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masih hidup, ia pernah ditanya apakah seorang yang melakukan aksi bom bunuh diri dan merasa telah melakukan jihad itu akan masuk surga dan kelak bertemu bidadari-bidadari cantik di sana.

“Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan saat itu.

“Memangnya sudah ada yang membuktikan?” jawab Gus Dur.

“Belum Gus,” kata wartawan.

“Kalau pun masuk surga, dia akan menyesal bertemu bidadari.”

“Kenapa Gus?”

“Karena kepalanya masih tertinggal di dunia. Ada di pengadilan,” jawab Gus Dur.

Seorang netizen yang juga praktisi tasawuf, Dekrit Pratikto, mengomentari kesahihan aksi bom bunuh diri dari sudut pandang tasawuf.  Ia mengatakan, “Seandainya mau sedikit saja mencicipi tasawuf, mereka tidak akan menjadi teroris. Jangankan membunuh orang, wong ‘neplek’ nyamuk aja mesti mikir dulu, ini perbuatan dosa atau bukan.

Atau kalau mau yang lebih ‘serem’, bisa saja, atas perkenan-Nya, mengintip alam barzakh, sehingga kebenaran akan terungkap. Singkat kata, sembahlah Allah saja, bukan yang lain.

Jangan menyembah setan (baca: menyembah hawa nafsu/ menyembah ego-mu sendiri), karena disamping mrpk musuh yang nyata, pasti akan membuat kita tersesat .  Nama-Nya yang utama, yang membuat alam semesta ini tercipta, adalah ar Rahmaan dan ar Rahiim (Yang maha kasih sayang).  Itu lho yang setiap kali wajib dibaca setiap shalat. Perwujudan nama itulah yangg semestinya menghiasi akhlak seorang muslim sehari-hari.”