Akun Facebook Dudi Hermawan Adalah Teroris Yang Layak Ditangkap Dan Diadili

Presiden di era cyber ini memang selalu dipantau segala gerak-geriknya oleh para netizen di penjuru dunia, begitu juga pejabat yang lain harus bisa belajar dengan manusia yang lain tanpa prasangka untuk kemajuan bersama. Yang sering kita lupakan, Jokowi adalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya, mempunyai nafsu yang sama, keinginan yang mutlak untuk membahagiakan keluarganya.

Ketika menjadi Presiden apakah Jokowi tidak boleh berlibur?
Apakah seorang Presiden itu tidak boleh nonton film bersama keluarganya?

Jokowi memang sosok yang tepat di era cyber ini, pekerja keras, sangat sabar menghadapi banyak godaan, kreatif namun tegas dalam bertindak. Sudah berapa banyak netizen yang melakukan PENGHINAAN terhadap simbol negara ini dengan bahasa yang kasar jauh dari rasa manusiawi.

Ada juga Haters DUNGU ketika menyamakan kedudukan Presiden itu sama dengan Ketua RT, entah dari sudut kisruh mana dia berpendapat demikian?

Ketua RT hanya membawahi sekian KK, Presiden jelas mengatur jutaan KK dari Sabang sampai Merauke, dengan persoalan yang setiap hari ada, bahkan tanpa direncanakan.

Ketua RT tidak banyak pembantunya, namun Presiden jelas bawahannya banyak, bahkan semua pejabat di seluruh Indonesia adalah bawahannya. Apakah setiap kasus Presiden HARUS HADIR di tempat tersebut? Sungguh pemikiran KERDIL dan DEGIL tanpa mau melihat struktur kepresidenan dengan teliti.

Ketika LIBUR LEBARAN Jokowi pun tak sepenuhnya libur, ia tetap bekerja, tidak seperti Presiden sebelumnya, bisa tenang liburan dengan penuh, namun Jokowi tetap BLUSUKAN menemui rakyatnya diberbagai tempat. Setelah selesai, malam harinya ia menyaksikan film di bioskop bersama keluarganya.

Ketika mencuat peristiwa yang jauuuuh di pedalaman Papua, tepatnya wilayah Tolikara, meluncurlah makian-makian dari para HATERS DUNGU yang memang lebih suka BERFIKIR dari sisi negatif itu yaitu mencela Presiden Jokowi, seolah dirinya lebih hebat dari Presidennya……preeet kampret memang suka mencrete!

Salah satunya akun Facebook yang bernama Dudi Hermawan, dengan kebenciannya yang tanpa sebab meluncurlah status ala teroris berbau SARA :

“Presiden macam manalah kau ini….!!Kerja..Kerjaa..Kerjaaa…Kerjaanmu cuma nonton bioskop ma konser doank ternyata..!! Kalo kau bukan muslim, ku tebaslah kepala kau niich!!…”

Betapa mirisnya kalau kita membaca status yang demikian sadisnya ini, apakah si Dudi Hermawan ini anggota ISIS yang suka main tebas kepala? Apakah si Dudi Hermawan ini SANGAT BENCI dengan NON MUSLIM dan ingin menebas semua kepala umat non muslim itu?

Di sini “lawan-lawan” Jokowi punya kesempatan baik untuk mengalahkan atau setidaknya mengimbanginya dengan prestasi yang lebih baik. Tapi apa yang dilakukan kubu seberang terhadap Jokowi selama ini? Cuma iseng-iseng nggak mutu bahkan menyulut KEBENCIAN, melakukan TEROR dengan cara MENGHASUT melalui kalimat-kalimat tidak pantas itu.

Akun Facebook Dudi Hermawan ini layak mendapat ucapan sayonara selama-lamanya akibat status busuknya dengan dosa dan dusta dalam menyikapi simbol negara itu. Menurut pantauan banyak pihak, akunnya sudah ditutup, namun akun istrinya MONIKA AMANDA yang menulis pekerjaannya sebagai DOKTER di PEMKAB BINTAN lulusan Universitas YARSI dan tinggal di 
BATAM, Ouham, Central African Republic ini masih ada dan memasang beberapa wajah suami yang penuh kedengkian itu.

https://www.facebook.com/monika.amanda.1

Manusia hidup dalam mencari kebajikan sejatinya terus bergerak, bekerja, dengan optimisme, bukan mencela, menghina, menghasut, mencari permusuhan, tapi CARILAH kebenaran, DENGARKAN kebenaran, AJARKAN kebenaran, CINTAI kebenaran, PATUHI kebenaran, dan BELALAH kebenaran sampai ajal menjelang.

Sebagai Presiden Jokowi adalah SIMBOL NEGARA yang tidak harus tiba pada peristiwa kerusuhan saat itu, keselamatannya harus dijaga, makanya ada PASPAMPRES yang melekat dalam dirinya 24 jam penuh. Semua peristiwa pembantu Presiden di wilayah tersebut lah yang harus TANGKAS menyelesaikan permasalahan di wilayahnya, Presiden memantau dan memberikan pengarahan dari jauh pun bisa. Ini zaman teknologi bukan zaman 
kuda gigit besi, komunikasi bisa terjalin tanpa henti.

Sudah tiba saatnya PEMERINTAH harus berani mentertibkan teroris-teroris dunia maya dengan hukum yang tegas tanpa tedeng aling-aling lagi, agar tidak menjadi benih kebencian bagi generasi cyber di kemudian hari kepada para pemimpin negeri ini.