ORMAS RADIKAL MERADANG DENGAN KAPOLRI TITO KARNAVIAN PILIHAN JOKOWI

Terbukti makin jelas kemandirian Jokowi dalam memegang teguh hak prerogratifnya sebagai sosok presiden yang tegas dengan keputusannya. Para haters yang sering menuduh Jokowi sebagai bonekanya Megawati makin tak berkutik dengan langkah Jokowi dalam membuat kebijakan itu. Isu yang beredar bahwa kelak Jokowi akan tetap memilih BG sebagai Kapolri pesanan PDIP sebagai partai pengusungnya, setelah BH pensiun, nyatanya prediksi para pengamat gugur juga. Tito Karnavian menjadi calon tunggul yang diajukan Jokowi sebagai Kapolri. Tradisi pemilihan Kapolri yang biasanya ditentukan dari kepangkatan, kini dirombak dengan mengutamakan prestasi kerjanya. Jadi siapa saja yang berprestasi dalam bidangnya, Jokowi selalu memantaunya untuk diberikan tugas yang lebih besar. Tito Karnavian punya reputasi hebat. Dia pada 2001, memimpin tim Kobra menangkap Tommy Soeharto. Pada 2005, dia bergabung dalam Tim densus 88 yang melumphkan teroris Azahari Husin. Tito juga berperan dalam membongkar konflik Poso 2007 dan menangkapi orang-orang yang terlibat dalam konflik di daerah itu. Ia juga ikut dalam tim yang membongkar jaringan terorisme pimpinan Noordin M Top pada 2009. Waktu lulus SMA, dia masuk AKABRI walau sebenarnya dia juga diterima di FK Sriwijaya, HI UGM dan STAN. Dia bahkan dapat gelar Doktor di Nanyang University (Singapura) dgan disertasi soal Terorisme dan Radikalisasi islam. Jokowi memilih orang yang tepat! Tapi ormas radikal yang diwakili FPI mulai angkat bicara, Habib Rizieq jelas tak bertanggungjawab jika Tito yang diloloskan DPR RI, sebab di mata ormas radikal, Tito adalah ancaman bagi keharmonisan umat Islam Indonesia untuk menuju negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai islami. “Apalagi Tito dekat dengan cina kafir Ahok, pasti si Entit akan melindungi koruptor Sumber Reklamasi tidak Waras itu! Umat Islam harus marapatkan barisan untuk mewaspadai hubungan mereka berdua!!”