Sang Pangeran Vs Tukang Martabak

Oleh S.H. Dewantoro

Nama Edhie Baskoro Yudhoyono mencuat kembali, setelah disebut dalam sidang kasus pencucian uang mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin, di Pengadilan Tipikor, Rabu (6/1/2016). 

Ibas dinyatakan memberikan izin kepada Nazaruddin yang menugaskan kepada mantan anggota Komisi X dari Fraksi Demokrat, Angelina Sondakh, untuk membahas proyek di Kementerian Pendidikan. 

Angie saat sidang mengatakan dari 20 persen total penambahan anggaran APBN 2010 untuk pendidikan nasional, Demokrat mendapat jatah anggaran untuk proyek sebesar 20 persen. Dari jatah proyek 20 persen itu, lima persen di antaranya diperuntukkan sebagai fee bagi para anggota Fraksi Demokrat.

“Pak Nazar sendiri yang bilang bahwa lima persen itu sudah menjadi haknya Partai Demokrat. Kalau Pak Nazar bilang itu perintah Ketua Umum, Anas (Urbaningrum), dan izin dari pangeran. Pangeran itu Ibas,” ujar Angie.

Sang Pangeran Ibas, tampaknya memang disiapkan sedemikian rupa oleh ayahnya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi politisi ulung.  Ia pertama kali terjun ke politik di 2009. Pada Pemilu Legislatif 2009, dia mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan VII Jawa Timur, dan lolos dengan perolehan suara tertinggi se-Indonesia.

Ibas  kemudian ditunjuk menjadi anggota Badan Anggaran DPR dan Komisi I DPR yang membidangi hubungan luar negeri, pertahanan keamanan, dan komunikasi informatika.

Pada Mei 2010, putra bungsu SBY itu ditunjuk Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum mendampinginya sebagai Sekjen Demokrat. Sebelum menjabat Sekjen, Ibas duduk di posisi Ketua Departemen Kaderisasi partai itu.

Ibas juga menjabat Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Promosi, Pariwisata, Seni Budaya, dan Olahraga.

Jelas Ibas menikmati previlege sebagai anak Presiden RI untuk bisa mengukuhkan posisinya di panggung politik Indonesia.  Dan inilah, yang berbeda 180 derajat dengan putra Presiden RI saat ini, Gibran Rakabuming Raka.

Sebagai anak presiden, sangat terbuka bagi Gibran untuk bisa berkancah di politik. Entah jadi sekretaris parpol atau mungkin duduk di posisi-posisi tertentu di pemerintahan yang strategis. Tapi, apa kenyataannya? Ia justru tidak menggubris semua kesempatan ini dan pilih mengembangkan usaha sendiri.  Chili Pari, sebuah usaha katering yang sudah “Men-solo” dan mungkin saja setelah ini “Meng-Indonesia” adalah hasil kerja keras Gibran. Ia sudah jadi owner bahkan sebelum ayahnya diangkat presiden. Gibran juga punya Markobar, sebuah kedai martabak yang kini mulai terkenal. 

Gibran dan Ibas sama-sama lulusan universitas di Australia dan Singapura.  Gibran lulus dari University of Technology Insearch Australia dan pernah mengenyam pendidikan di Singapura.  Sementara Ibas menempuh pendidikan di Curtin University, Australia dan Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.   Di Curtin University, dia meraih gelar Bachelor of Finance and E-Commerce, sedangkan di NTU dia meraih gelar master di bidang Ekonomi Politik Internasional.

Tetapi, meskipun sama-sama anak Presiden dan lulusan Australia, mereka mengambil jalan berbeda.  Gibran memilih jadi diri sendiri – ia tak mau manfaatkan fasilitas ayahnya, termasuk dengan menjadi tukang martabak, sementara Ibas menjadi Sang Pangeran yang bersama ayahnya turut mencengkeram jagad politik bisnis Indonesia.