Bela Negara Bagian Dari Nafas Islam

Siapa tidak kenal Gus Dur? Seorang Ulama sekaligus pemikir Islam kontemporer. Dia lahir dari rahim NU, organisasi Islam terbesar di tanah air. Pemikiran seorang Kiai yang menembus batas-batas primordial. Dia adalah sosok pelindung empat pilar, NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kecintaan terhadap tanah air dia wujudkan dalam implementasi ideologi Pancasila yang diletakkannya sebagai ideologi bangsa dan falsafah negara. Gus Dur beranggapan bahwa pilar-pilar kebangsaan berstatus sebagai kerangka berpikir yang harus diikuti oleh undang-undang dan produk hukum lainnya.

Bela Negara, menurut perspektif Gus Dur, diejawantahkan dalam gagasan pluralisme. Pandangannya tentang negara Indonesia diterjemahkan sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku, agama dan kelompok. Bela Negara artinya menghormati setiap perbedaan yang ada di dalam kehidupan majemuk Indonesia.

Argumentasi Gus Dur dalam pemaknaan Bela Negara adalah menekankan sisi toleransi dalam kehidupan antarumat beragama. Tentunya, hal ini sejalan dengan gagasan Bela Negara yang diusung Kementerian Pertahanan yang menolak adanya radikalisme beragama yang ujungnya bisa saja aksi terorisme.

Kementerian Pertahanan memiliki cita-cita lahirnya 100 juta kader Bela Negara. Dengan kader sebanyak itu, diharapkan NKRI bisa bertahan dari ancaman gempuran ideologi asing yang hadir akibat globalisasi. Bahkan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu hingga saat ini masih melakukan kampanye tentang pentingnya Bela Negara bagi semua lapisan masyarakat.

Bela Negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut.

Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut, sedangkan secara non-fisik konsep ini diartikan sebagai upaya untuk serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut.

Sangat menarik jika kita menarik benang merah antara gagasan yang pernah disampaikan Gus Dur dengan konsep Bela Negara saat ini. Benang merah itu adalah rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negara.

Sistem demokrasi yang saat ini dianut oleh Indonesia tidak bertentangan dengan ajaran agama apapun. Setidaknya itu yang disampaikan Gus Dur saat semasa hidupnya. Gus Dur menjawab bahwa membela negara yang saat ini sudah berdiri sejak lebih dari 70 tahun, artinya sama dengan membela kehormatan agama.

Ada adagium menarik yang diyakini Gus Dur. Adigium itu adalah; la islama illa bil jama’ah, wala jama’ata illa bil imarah, wa la imarata illa bit-tha’ah. Gus Dur berkeyakinan bahwa semua sistem bisa diakui dalam adagium tersebut, asalkan digunakan untuk memperjuangkan berlakunya keadilan, kesejahteraan dan kedamaian bagi masyarakat. Bagi Gus Dur, bela negara memiliki arti penting bahwa negara Pancasila adalah mutlak bagi bangsa Indonesia. Dia juga merupakan karya otoritatif yang telah diperjuangkan para pahlawan tentang ideologi bangsa. (*)