Oleh Erizeli Jelly Bandaro

Tadi siang sempat menghadiri diskusi internal dengan teman teman aktifis. Diskusi di adakan di kantor teman saya yang juga fungsionaris partai. Dia sengaja mengundang saya untuk hadiri. Menurutnya ini diskusi rutin di adakan bulanan. Dalam diskusi itu yang mengemuka adalah rasa kawatir pemerintah Jokowi akan terjebak dengan kekuatan asing yang mengendalikan modal. Singkatnya bahwa Indonesia di bawa kepada situasi semakin tergantung dengan asing. Dalam jangka panjang Indonesia akan dikuasai asing. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Namun salah satu pembicara meminta pendapat saya.

Lama saya berpikir dari mana saya harus memulai bicara. Karena mindset mereka sudah terbentuk menjadi road block yang sulit di rubah. Apalah saya yang bukan siapa siapa bagi mereka. Tentu tidak akan di dengar. Tapi karena di minta berbicara akhirnya saya sampaikan juga pendapat saya. Menurut saya bahwa rasa kawatir itu berlebihan.

Mengapa ?

GLobalisasi telah terjadi sedemikian rupa yang tak bisa di lepaskan dari epos sejarah sejak kapitalisme di perkenalkan.Pada hari ini kita hidup di terisolasi akan perlunya asing. Coba perhatikan. Tidur pakai AC , itu buatan jepang atau korea. Bangun tidur, gosok gigi. Itu produk unilever. Setelah gosok gigi harus pakai sabun, Juga produk unilever atau jhonson and jhonson. Setelah mandi harus pakai baju. Itu bahan baju dari kapas sampai pewarna di impor dari luar.Kalau bajunya bermerek , di buat di China karena hampir semua baju merek terkenal pabriknya ada d CHina. Rumah akan gelap gulita tanpa lampu buatan belanda atau china.

Ketika kekantor , kendaraan yang ada gunakan itu buatan jepang atau amerika. Kalau motor jelas buatan jepang. Kalau kendaraan umum bisa buatan jepang atau buatan china. Sampai di kantor , gedung jangkung tempat anda kerja, pasti sumber dananya ada yang melibatkan asing. Ketika telp atau gunakan fitur sosmed, gadget itu di buat di China atau Taiwan. Bahkan anda sholat di masjid, suara azan yang membahana se RT itu karena speaker buatan Korea atau Jepang, atau jerman. Petani mengangkut hasil bumi dengan kendaraan buatan asing dan cangkul di buat di Tegal tapi bahan bakunya berupa lempengan baja di hasilkan oleh KS yang sahamnya di miliki Korea. Di kampus semua referensi ilmiah yang hebat hebat itu berasal sebagian besar dari ilmuwan asing dan tidak syah skripsi tanpa footnote nama buku dan pengarangnya.

Uang yang kita pegang sekarang validasinya karena clearing nostro dan vostro yang ada di Singapore. Lantas dimana Indonesia? Indonesia hanyalah sebuah ide bagaimana komunitas di bangun berdasarkan falsafah Pancasila. Dari awal pendiri negara kita menolak paham nasionalisme chauvinisme tapi setuju dengan persatuan. Karena nasionalisme itu lebih kepada egoistis sempit yang menjadikan negara dan bangsa melakukan upaya penaklukan terhadap bangsa lain. Tapi persatuan berdasarkan pancasila bukan karena paham chauvinisme tapi paham cinta. Persatuan yang di jalin karena cinta. Dan itu sumbernya adalah Tuhan.

Kalau kita merasa kawatir terhadap asing maka sebetulnya itu dipicu oleh sifat inferior complex karena tidak yakin dengan keimanan kepada Tuhan dan tidak yakin dengan penguasaan ilmu yang ada. Sehingga takut bersaing. Takut melalalui sunattullah bahwa hidup harus berkompetisi dari segi keimanan maupun pengetahuan. Ini semua karena agama di lambungkan setinggi langit namun diri tidak menginjak bumi. Akibatnya hidup dalam tesis dan dalil yang tidak berdampak terhadap peningkatan kualitas iman dan ilmu pengetahuan serta ketakwaan. Yang ada hanyalah paranoid terhadap kemajuan dan perubahan. Ini sifat pecundang dan agama tidak mendidik orang jadi pecundang.

Saudaraku…tidak ada yang paling kita kawatirkan kecuali diri kita sendiri. Musuh utama kita ada dalam diri kita, nafsu kita. Perangilah sifat malas agar rajin dan tangguh melewati hambatan. Perangilah sifat gampangan, agar kita sabar melewati waktu. Perangilah sifat manja agar kita jadi petarung diatas kesulitan dan rendah hati di atas kesuksesan. Perangilah sifat amarah , benci, agar kita mudah berteman untuk mendatangkan rezeki. Perangilah sifat rakus agar kita hemat, tidak culas dan mudah berbagi. Apabila kita bisa menaklukan diri kita maka siapapun tidak akan bisa menaklukan kita karena Tuhan hadir di setiap detak jantung kita…

Pahamkan sayang..